Museum Kampung, Motor, Mobil dan Rumah Adat Ngawi Jawa Timur terletak di Desa Tempuran, Paron Ngawi Jawa Timur, dan dilingkungan sekitar disebut sebagai Rumah Griya Asri.
Griya Asri merupakan Rumah Tinggal yang dibangun pada tahun 1921 oleh Bapak Marto Haryono dan Ibu Isminah yang merupakan Ayahanda dan Ibunda dari Suntoro Haryono.
Bangunan Griya Asri merupakan Rumah Adat Jawa Timur yang sampai saat ini masih terjaga, dan terakhir direnovasi tahun 2010.
Tempuran adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur
dan terdiri dari beberapa dusun, yaitu : Bulakan (di pinggir jalan
Ngawi - Madiun), Tempuran, Tempurejo, Tempursari, Munggur, Melikan,
Jegolan, Bendo, bakalan.
Tempuran mungkin berasal dari kata "tempuk" dalam bahasa Jawa
berarti "bertemu", karena memang di desa ini terdapat pertemuan dua
aliran sungai.
Menurut sumber cerita dari para sesepuh
desa, Dinamakan Desa Tempuran karena di wilayah ini ada pertemuan dua
aliran sungai yaitu Sungai Ketonggo dan Sungai Trinil. Pertemuan dua
aliran sungai itu biasanya disebut TEMPUK. Di dekat tempukan dua sungai
tadi ada pohon besar yang dikeramatkan atau biasa disebut PUNDEN. Di
Punden itu sering diadakan acara BERSIH DESA atau NYADRAN. Sejak
kejadian itu, orang-orang sering menyebut daerah itu dengan nama
TEMPUKAN atau TEMPURAN.
Sejak saat itulah daerah di sekitar pertemuan dua sungai tadi disebut DESA TEMPURAN.
Berdasarkan riwayat tersebut maka daerah ini dikenal dengan Desa Tempuran sampai sekarang.
Sebagian besar geografisnya berupa lahan pertanian dengan luas 571,387 Ha
Selain berupa lahan pertanian di Desa Temnpuran juga terdapat sumber air panas
diareal persawahan milik tanah desa setempat. Munculnya
sumber air panas menurut warga setempat setelah pihak PT Jasa Raharja
Pusat melakukan pengeboran sumur dengan sistim arthesis yang tujuanya
sebagai bantuan program sarana air bersih bagi warga sekitar.
sumber gambar : http://ngawi-news.blogspot.co.id/2012/04/sumber-air-panas-tempuran-paron-ngawi.html “Saat melakukan pengeboran pada kedalaman 400
meter tiba-tiba saja muncul semburan air panas padahal target kedalaman
pihak pengebor sumur sendir sekitar 600 meter.
sesuai kutipan asli dari https://indonesiatripnews.com/perjalanan-wisata/2016/10/2980/
JAKARTA, ITN- LINGKUNGAN
yang asri, hidup nyaman dan aman merupakan dambaan setiap manusia;
terutama manusia yang memasuki usia lanjut. Polusi udara, kebisingan,
kemacetan arus lalu-lintas, dan rasa stres berkepanjangan di kota-kota
besar; kian mendorong manusia untuk mencari kawasan yang asri dan
nyaman. Pada akhir peKan atau hari-hari libur, tidak sedikit manusia
yang harus “membeli” suasana pedesaan yang asri untuk menghilangkan
kejenuhan sehari-hari di perkotaan.
Hal itulah yang tampaknya menjadi
pemikiran dan ide dari Drs H Suntoro Haryono, MM; kelahiran Ngawi, Jawa
Timur untuk menjadikan lahan dan rumah peninggalan kedua orang tuanya
Bapak Marto Haryono dan Ibu Isminah untuk melahirkan “sesuatu” yang
bisa dinikmati dan dirasakan oleh masyarakat banyak. Rumah tinggal yang
dibangun kedua orang tuanya pada tahun 1921 di Desa Tempuran, Paron,
Ngawi, Jawa Timur itu “disulap” menjadi tempat rekreasi yang asri,
lestari, dan nyaman.
Tempuran adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Nama Tempuran, menurut Wikipedia mungkin berasal dari kata “tempuk” dalam Bahasa Jawa yang berarti “bertemu”; karena memang di desa itu terdapat pertemuan dua aliran sungai.
Seperti halnya desa-desa di Ngawi,
Desa Tempuran sebagian besar wilayah georafisnya adalah lahan
pertanian. Karena itu suasana di rumah tinggal keluarga besar Bapak
Marto Haryono dan Ibu Isminah masih memerlihatkan suasana pertanian,
perkebunan, dan rumah adat Ngawi.
Dengan nama “Griya Asri”, suami dari
Budi Nastiti ini setahap demi setahap mulai membangun peninggalan orang
tuanya . “Ya, bertahun-tahun saya membangunnya. Banyak kenangan indah
yang saya rasakan bersama orangtua dan saudara-saudara saya di rumah
itu, terutama pada masa kecil. Karena itu saya ingin melestarikannya,”
kata Suntoro Haryono menjawab pertanyaan indonesiatripnews.com di Jakarta, kemarin.
Niat yang baik untuk menggarap lahan
seluas 9.000 m2 itu akhirnya melahirkan satu museum kampung. Rumah
tersebut terakhir direnovasi pada tahun 2010.
Griya Asri memiliki empat bangunan
yaitu di bagian depan berupa pendopo, bagian tengah sebagai ruang
keluarga, samping sebagai lumbung padi, dan di bagian belakang dijadikan
tempat tinggal. Di bagian lain dibuatlah kolam pemancingan, ruang
museum mobil-mobil dan sepeda motor-sepeda motor antik yang semuanya
masih terawat dengan baik, dan ada dokar. Selain itu juga ada tempat
penangkaran rusa totol (Axis axis), burung merak (Pavo Cristatus), dan kambing. Ada pula sawah dan lahan untuk berkebun.
Khusus untuk kolam pemancingan, Suntoro
Haryono secara rutin menyelenggarakan lomba memancing dengan berbagai
hadiah yang menarik. Pada saat lomba memancing itu puluhan orang yang
datang dan pulang dengan hadiah-hadiah yang diraihnya dari hasil
memancing ikan.
Menjawab pertanyaan indonesiatripnews.com,
mengenai harapannya jangka panjang, Suntoro mengatakan, “Ya,
harapannya Griya Asri bisa jadi tempat rekreasi bagi masyarakat. Karena
itu, saya ingin di Griya Asri ini ada beberapa fasilitas yang bisa
membuat masyarakat merasa nyaman dan aman. Di bagian belakang saya
siapkan untuk jogging,” jelas bapak dari tiga anak ini.
Selain kolam pemancingan yang bisa
dimanfaatkan untuk umum, di bagian bangunan Griya Asri juga terdapat
taman bacaan bagi anak-anak. Dengan demikian Griya Asri selain sebagai
tempat rekreasi murah dan meriah, juga menjadi sarana edukasi bagi
anak-anak.
Untuk jangka panjang alangkah pasnya jika Griya Asri dilengkapi rumah makan dan tempat resepsi pernikahan dengan konsep party garden, sehingga para pasangan pengantin tidak hanya menyelenggarakan resepsi pernikahannya di gedung-gedung yang terasa monoton.
Mengenai cita-citanya waktu kecil,
Suntoro Haryono –bersama keluarganya yang tinggal di Jakarta– hanya
tersenyum. “Saya dulu ingin jadi petani, seperti syair yang dinyanyikan
Ebiet G Ade,” ucapnya sederhana.
Aku pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil
Tinggal di rumah desa dengan sawah di sekelilingku
Luas kebunku sehalaman ‘kan kutanami buah dan sayuran
Dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam peliharaan
Aku pasti akan hidup tenang, jauh dari bising kota yang kering dan kejam
Syair dan bait lagu Ebiet G Ade itu yang mengantarkan sosok Drs H Suntoro, MM melahirkan Griya Asri di Ngawi. (ori)
Bapak Marto Haryono beristeri Isminah adalah Ayahanda dan Ibunda dari Suntoro Haryono, memiliki Putera dan Puteri 10 Orang dan Suntoro Haryono adalah Anak yang ke 9.
Bertempat tinggal di Griya Asri dibangun sejak 1921, terdapat banyak kenangan keluarga, berikut Foto Tempo Dulu keluarga Besar Bapak Marto Haryono
Foto Ayahanda Marto Haryono dan Ibunda Isminah
Foto Keluarga Tahun 1959, Suntoro Haryono kecil duduk bersebelahan dengan Ayanda
(foto ke tiga dari kanan)
Foto Keluarga Tahun 1973, Suntoro Haryono (posisi berdiri ditengah menggunakan pakaian batik)
Foto Keluarga Tahun 1974, Suntoro Haryono bersama Ayah dan Ibunda serta Kakak Adik
(posisi berdiri menggunakan kemeja putih ke 2 dari kiri)
Seperti halnya tersirat dalam Lirik Lagu Cita-Cita Anak Desa Ebit G Ade, bahwa Suntoro Haryono memiliki cita-cita yang sederhana, Atas kehendak Nya mendapat yang lebih baik dari cita-cita yang diharapkan Alir Mengalir, Mikul Duwur Mendem Jero Ulat Padang Tembung Manis
Dengan Sikap & Sifat yang sederhana dan memiliki prinsip seperti Air mengalir
berikut cita-cita anak Desa :
Aku
pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil
Tinggal di rumah desa dengan sawah di sekelilingku
Luas kebunku sehalaman 'kan kutanami buah dan sayuran
Dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam peliharaan
Aku pasti akan hidup tenang, jauh dari bising kota yang kering dan kejam
Aku akan
turun berkebun mengerjakan sawah ladangku sendiri
dan menuai padi yang kuning bernas dengan istri dan anakku
Memang cita-citaku sederhana sebab aku terlahir dari desa
Istriku Budi Nastiti Muekododari Jombang
Siapa
tahu nanti aku 'kan terpilih jadi Pegawai Negeri disambil dengan Bertani
Tapi Tuhan berkehendak lain
Bekerja
di sebuah Perusahaan Asuransi dibawah
BUMN
Hingga
mendapatkan Amanah Tanggung Jawab yang lebih besar di Perusahaan Asuransi Terkemuka di Indonesia
'kan kubangkitkan semangat rakyatku dan kubangun desaku
Desaku pun pasti mengharap aku pulang
Akupun rindu membasahi bumi dengan keringatku
Tapi semua itu hanyalah tergantung padaNya jua
Tapi aku merasa bangga setidak-tidaknya ku punya cita-cita Itulah cita -cita sederhana